• SMK NEGERI NGAMBON
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

Tepat Meskipun Terlambat

Seorang lelaki yang sering kulihat saat masih semester satu selintas membuatku bingung dan terdiam menatapnya saat dia lewat di depan mataku. Entah mengapa aku menatapnya begitu terpaku, padahal hatiku tidak merasakan gelora yang bergejolak seperti aku sedang jatuh cinta dulu. “Hey!”, Rina menyapaku dengan tegas. Aku tersadar dan pandanganku kembali normal. Saat itu, aku langsung pergi jauh untuk menjauhi pandanganku dari lelaki itu. “Dia telalu terkenal, aku tidak suka itu!” gumamku dalam hati. Sebulan, dua bulan, bahkan tiga bulan akhirnya berlalu. Waktunya kami berpergian bersama senior-senior yang tidak kusuka. Mungkin tidak semua, sebagian ada yang tidak kuketahui apakah mereka baik atau tidak sama sekali. Lelaki itu ternyata seniorku. Terkejut? Tidak! Aku sudah mengenalnya saat teman-temanku membicarakannya setiap hari. Bahkan di mataku, dia hanya seorang lelaki yang disukai banyak wanita dan bisa saja dia adalah pecinta banyak wanita tapi tidak untuk menjadi pacarnya.Tiba-tiba saja handphoneku bergetar. Aneh! Seorang lelaki yang sering dibicarakan teman-temanku mengirimkan pesan padaku. Kurasa ini tanda bahwa dia memperhatikanku. Aku masih tidak ingin memikirkannya. Dia masih belum bisa menembus dinding hatiku. Seiring waktu, lelaki itu terus saja mengirimkan pesan padaku. Aku juga merasa nyaman jika berbicara padanya. Aku masih merasakan hal yang sama, dia masih belum bisa menembus dinding hatiku.

Sudah beberapa hari berlalu, hampir seminggu. Akhirnya aku merasakan rasa “suka” padanya. Mungkin karena kenyamanan yang ia ciptakan saat berbicara. Akhirnya aku menerimanya dalam hidupku. Menjalani proses dengan pacaran, meskipun hatiku belum sepenuhnya mencintainya. Ulang tahunnya pun tiba, apa yang terjadi? Aku akhirnya bisa mencintainya. Apa ia menginginkan hal itu? Bukankah itu aneh? Tidak! Aku yang meminta. Kali ini aku sangat bahagia. Akhirnya aku mencintainya setelah aku menjadi pacarnya. Mungkin ini terbilang terlambat, tapi ini benar-benar tepat sasaran. Aku tidak lagi merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti dulu. Kini aku merasakan indahnya mencintai seseorang yang benar-benar mencintaiku.

Komentari Tulisan Ini